Not A Hello World ! Blog ®

Sunday, December 17, 2006

Cont

Ada satu lagi penggalan kalimat yang cukup menyentuh saya
"Dalam kondisi sekarang ini jadilah seperti ikan di laut, meskipun berada di air asin tubuh ikan tersebut
tidak terasa asin".
Memang sulit bagaimana kita bersikap menghadapi lingkungan yang senantiasa 'asin' dan siap masuk
ke tubuh kita, bila kita tidak memiliki suatu sistem / mekanisme yang kuat untuk mencegah air asin
tersebut masuk ke dalam tubuh kita.

Media

Setelah kurang lebih satu bulan mentoring tidak berjalan, kemarin Mas Hajam, bisa ngadaian mentoring lagi
dalam pertemuan kemarin banyak hal menarik yang dibicarakan.
Tidak kalah dengan acara berita atau gosip di TV, kemarin juga dibicarakan dua kisah ter-hot pilihan
pemirsa dalam satu bulan terakhir. Apalagi kalo bukan skandal perselingkungan YZ dan ME, dan tentunya
poligami yang dilakukan oleh dai kondang Indonesia, Aa Gym.
Untuk permasalahan pertama sebagai orang yang belum gila, tentu kita akan merespon bahwa tindakan tersebut
adalah tindakan yang amat sangat tidak bermoral. Serorang aggota DPR, sosok pemimpin yang harusnya menjadi
panutan bagi rakyat malah melakukan tindakan yang tidak beradab. Tapi respon yang dilakukan media sangat
berbeda dengan apa yang seharusnya, media berusaha mengarahkan agar persoalan tadi menjadi fenomena yang
biasa dan sah-sah saja, sehingga membuat banyak orang malah berempati terhadap orang-orangan yang terlibat dalam skandal tersebut.
Berbeda dengan permasalahan kedua, kasus poligami Aa Gym. Media dan kebanyakan aktivis gender menganggap
hal itu merupakan suatu tindakan yang merendahkan harkat dan derajat kaum perempuan (tentunya bagi mereka
yang beranggapan bahwa harkat dan derajat manusia ditentukan oleh manusia yang lain). Media beruasaha
membelokkan pemikiran pemirsa TV di Indonesia (Jika sebagian besar rakyat Indonesia beragama Islam, apakah
boleh dikatakan bahwa membelokkan pemikiran permirsa TV di Indonesia sama dengan membelokkan pemikiran
umat Islam ya? silakan dijawab sendiri). Media berusaha melakukan perang pemikiran (istilah santrinya
Ghozwul Fikri) bahwa poligami itu tidak dibenarkan, karena hanya akan merendahkan kaum perempuan. Padahal
di dalam Islam jelas-jelas bahwa poligami itu diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu (ingat hanya
diperbolehkan bukan sunnah).
Dengan bertambahnya sumber informasi maka informasi yang benar-benar shohih justru sulit untuk
didapatkan, ironi memang. Seperti kata dosen saya saat mengajar hari selasa kemarin. Dulu beliau sulit
memperoleh informasi karena keterbatasan sarana informasi, tapi seiring perkembangan teknologi sumber
informasi kian meningkat, namun permasalah tadi malah berubah menjadi bagaimana menyaring informasi yang
shahih dan layak dari berbagai sumber informasi yang tersedia.

Syukuran Wisuda

Hari Sabtu kemarin widyakelana ngadain acara kumpul-kumpul di CC Barat. Cukup banyak yang datang, maklum
ada acara makan gratisnya. Kumpul-kumpul kemarin sebenernya buat acara tasyakuran wisuda anak-anak wika
yang lulus tahun ini, ada tiga orang lulusan yang kemarin ikut berpartisipasi tapi yang hadir cuman dua
orang.
Tapi bukan acara sukuran di atas yang akan saya bahas, tapi saat acara kemarin ternyata ada anak Wika
yang sengaja mengundang alumi angkatan 85. Baru kali ini wika kedatangan tamu spesial. Ada dua orang alumni
wika yang berkenan hadir. Mereka bercerita tentang bagaimana mereke kuliah dulu, suasana kuliah, perjalan
karir dll. Mereka juga banyak cerita tentang bagaimana lulusan ITB harus bersikap dalam dunia kerja, baik saat proses perekrutan, selama bekerja di perusahaan sampai fenomena kutu loncat yang menjadi tren lulusan ITB.

Hal menarik lainnya yang masih hinggap di benak saya, kemarin ada anak yang nanya apa sih sebenarnya arti
widyakelana itu? Pak Agus, alumni 85 yang juga pengurus wika saat itu, berpendapat menurut filosofi jawa
(ROnggowarsito) bahwa orang yang keluar (berkelana) yang nyabrang kali (melintasi sungai)
entah sungai bengawan Solo atau sungai Serayu atau lainya maka akan menjadi orang besar (orang yang berhasil). Atas dasar filosofi jawa itulah kenapa ikatan alumni SMA 1 Solo dinamakan widyakelana. O,,, ternyata widyakelana tidak hanya sekedar nama ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya yang sangat dipercaya oleh kebanyakan warga Solo dulu...tapi sekarang masih nggak yah... Kalo menurut saya pribadi sihwalau tidak percaya dengan filosofi itu, tapi ada bagian yang mesti terwujud yaitu pada bagian 'akan menjadi orang besar'.

Jadi terngingat dengan cerita bapak saya, temennya yang berasal dari 'wetan kali' maksudnya sebelah timur
Bengawan Solo pernah diprediksi akan menjadi pemimpin republik tercinta ini,,,weleh-weleh...kok bisa!!!