Media
Setelah kurang lebih satu bulan mentoring tidak berjalan, kemarin Mas Hajam, bisa ngadaian mentoring lagi
dalam pertemuan kemarin banyak hal menarik yang dibicarakan.
Tidak kalah dengan acara berita atau gosip di TV, kemarin juga dibicarakan dua kisah ter-hot pilihan
pemirsa dalam satu bulan terakhir. Apalagi kalo bukan skandal perselingkungan YZ dan ME, dan tentunya
poligami yang dilakukan oleh dai kondang Indonesia, Aa Gym.
Untuk permasalahan pertama sebagai orang yang belum gila, tentu kita akan merespon bahwa tindakan tersebut
adalah tindakan yang amat sangat tidak bermoral. Serorang aggota DPR, sosok pemimpin yang harusnya menjadi
panutan bagi rakyat malah melakukan tindakan yang tidak beradab. Tapi respon yang dilakukan media sangat
berbeda dengan apa yang seharusnya, media berusaha mengarahkan agar persoalan tadi menjadi fenomena yang
biasa dan sah-sah saja, sehingga membuat banyak orang malah berempati terhadap orang-orangan yang terlibat dalam skandal tersebut.
Berbeda dengan permasalahan kedua, kasus poligami Aa Gym. Media dan kebanyakan aktivis gender menganggap
hal itu merupakan suatu tindakan yang merendahkan harkat dan derajat kaum perempuan (tentunya bagi mereka
yang beranggapan bahwa harkat dan derajat manusia ditentukan oleh manusia yang lain). Media beruasaha
membelokkan pemikiran pemirsa TV di Indonesia (Jika sebagian besar rakyat Indonesia beragama Islam, apakah
boleh dikatakan bahwa membelokkan pemikiran permirsa TV di Indonesia sama dengan membelokkan pemikiran
umat Islam ya? silakan dijawab sendiri). Media berusaha melakukan perang pemikiran (istilah santrinya
Ghozwul Fikri) bahwa poligami itu tidak dibenarkan, karena hanya akan merendahkan kaum perempuan. Padahal
di dalam Islam jelas-jelas bahwa poligami itu diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu (ingat hanya
diperbolehkan bukan sunnah).
Dengan bertambahnya sumber informasi maka informasi yang benar-benar shohih justru sulit untuk
didapatkan, ironi memang. Seperti kata dosen saya saat mengajar hari selasa kemarin. Dulu beliau sulit
memperoleh informasi karena keterbatasan sarana informasi, tapi seiring perkembangan teknologi sumber
informasi kian meningkat, namun permasalah tadi malah berubah menjadi bagaimana menyaring informasi yang
shahih dan layak dari berbagai sumber informasi yang tersedia.
dalam pertemuan kemarin banyak hal menarik yang dibicarakan.
Tidak kalah dengan acara berita atau gosip di TV, kemarin juga dibicarakan dua kisah ter-hot pilihan
pemirsa dalam satu bulan terakhir. Apalagi kalo bukan skandal perselingkungan YZ dan ME, dan tentunya
poligami yang dilakukan oleh dai kondang Indonesia, Aa Gym.
Untuk permasalahan pertama sebagai orang yang belum gila, tentu kita akan merespon bahwa tindakan tersebut
adalah tindakan yang amat sangat tidak bermoral. Serorang aggota DPR, sosok pemimpin yang harusnya menjadi
panutan bagi rakyat malah melakukan tindakan yang tidak beradab. Tapi respon yang dilakukan media sangat
berbeda dengan apa yang seharusnya, media berusaha mengarahkan agar persoalan tadi menjadi fenomena yang
biasa dan sah-sah saja, sehingga membuat banyak orang malah berempati terhadap orang-orangan yang terlibat dalam skandal tersebut.
Berbeda dengan permasalahan kedua, kasus poligami Aa Gym. Media dan kebanyakan aktivis gender menganggap
hal itu merupakan suatu tindakan yang merendahkan harkat dan derajat kaum perempuan (tentunya bagi mereka
yang beranggapan bahwa harkat dan derajat manusia ditentukan oleh manusia yang lain). Media beruasaha
membelokkan pemikiran pemirsa TV di Indonesia (Jika sebagian besar rakyat Indonesia beragama Islam, apakah
boleh dikatakan bahwa membelokkan pemikiran permirsa TV di Indonesia sama dengan membelokkan pemikiran
umat Islam ya? silakan dijawab sendiri). Media berusaha melakukan perang pemikiran (istilah santrinya
Ghozwul Fikri) bahwa poligami itu tidak dibenarkan, karena hanya akan merendahkan kaum perempuan. Padahal
di dalam Islam jelas-jelas bahwa poligami itu diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu (ingat hanya
diperbolehkan bukan sunnah).
Dengan bertambahnya sumber informasi maka informasi yang benar-benar shohih justru sulit untuk
didapatkan, ironi memang. Seperti kata dosen saya saat mengajar hari selasa kemarin. Dulu beliau sulit
memperoleh informasi karena keterbatasan sarana informasi, tapi seiring perkembangan teknologi sumber
informasi kian meningkat, namun permasalah tadi malah berubah menjadi bagaimana menyaring informasi yang
shahih dan layak dari berbagai sumber informasi yang tersedia.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home