Kembali Nulis
Dah lama nggak nulis lagi nih, maklum lagi repot ngurusi n kuliah and tugas-tugasnya yang seolah-olah ga pernah selesai. Bingung mau nulis apa ya? Ada ide ga?. Ehm apa ya….Gini aja deh, beberapa jumat yang lalu pas jumatan di Salman ada ‘selentingan’ yang dalem and nyasar tepat di ‘pulung ati’. Kayak tembakan bunuh diri Mr. Baneth, bapaknya Claire, di serial Heroes. Tapi ternyata cuma berpura-pura untuk mengelabuhi Claire, jadinya Mr Baneth ga jadi mati deh.
Udah, lanjut gini nih ceritanya, bila ada seorang guru yang kewajibannya mengajar murid-muridnya tentu ia mengajar dengan cara yang baik, baik secara tutur kata maupun sikap. Hanya tindakan-tindakan keterlaluan yang dilakukan oleh sang murid (tentunya tindakan yang melanggar ketentuan yang berlaku atau tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang murid) yang memaksa sang guru untuk mendidik atau memperingatkan sang murid dengan cara-cara yang tidak biasa bisa berupa pukulan atau tutur kata yang agak kasar. Teringat dengan seorang dosen wali ku di IF, bila mahasiswa-masiswa ribut dan tidak ada cara untuk mengingatkan, maka ia memukul meja / marah dengan nada keras dan dengan begitu anak-anak langsung pada diem. Setelah itu ia mengatakan bahwa cara ini biasa ia lalukan bila ia susah mengatur anjingnya di rumah. Tahu nggak maksudnya? Agak sakit hati juga sih…
Nah dari sepenggal kisah diatas sang khotib mengatakan bahwa apakah sudah separah inikah hubungan kita dengan Tuhan Penguasa Alam semesta. Apakah permasalahan kita maksudnya kesalahan –kesalahan kita sudah tidak bisa dikomunikasikan antara kita dengan Tuhan? Apakah hanya hukuman saja yang bisa membuat kita jera dan mengembalikan kita ke jalan yang benar? Apakah cara-cara yang baik belum bisa menyadarkan kiat? Apakah kita terlalu bengal sehingga harus diingatkan dengan hukuman? Silakan dipikirkan sendiri-sendiri… Semoga komunikasi yang lebih baik dapat kita lakukan terapkan tanpa harus dengan hukuman. Amien.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home